CARI Malay Forums

 Forgot Pass?
 Register

Facebook Login

Login by Facebook

Forum : Gosip |  Hiburan |  Isu Semasa & Politik |  Peristiwa |  Lawak & Santai |  Sukan |  Informasi |  Kesihatan |  Soal Jawab Agama |  Negeri & Negara
Wanita & Lelaki |  Cinta & Perhubungan |  Belia & Pengetahuan |  Komputer & Internet |  Hobi |  Buku & Penulisan |  Koleksi Gambar
English Channel |  தமிழ் மக்கள் |  Jual/Beli |  Maklum Balas |  CARI Rasmi |  Cari Contest
12
Return Post new threads
Author: HangPC2

Sejarah Ulama Di Nusantara

[Copy link]

Rank: 7Rank: 7Rank: 7

Post on 24-10-2007 12:33 AM |All posts

Sunan Giri - (Raden Paku)



Among the traditional literature relating to the Wali Songo the name of Sunan Giri is especially prominent. Furthermore, his names are many, among them Raden Paku, Sultan Abdul Fakih, Maulana 'Ainul Yaqin, as well as Joko Samudra. This last name is connected with the semi- legendary account of his early years. The story goes that he was born from the marriage of a Muslim scholar named Maulana Ishak with a princess of the East Javanese kingdom of Blambangan. Forced to abandon the child shortly after his birth, his mother set him adrift on the ocean from where he was rescued by sailors and brought to Gresik. Here a woman named Nyai Gede Pinatih, who was a ship owner and the sailors' employer, adopted him. She subsequently named the young boy Joko Samudra, 'Samudra' meaning ocean. When he was old enough, his mother took Joko Samudra to Surabaya, where he began receiving religious instructions from Sunan Ampel. It was not long before the teacher discovered the boy's true identity and thus, when he considered that the student had learned enough, sent him, together with his own son Makhdum Ibrahim (later to be known as Sunan Bonang), to broaden his education further afield. It is said that the two traveled to Aceh, or possibly Malacca, where they were received by Maulana lshak. Here, Joko Samudra, or Raden Paku as he was known by now, learned of his real parents and the story of his abandonment. After three years of study with his father, Raden Paku returned to Gresik, where he founded a religious institution on the hill at Giri.
marilah mengaji kenal huruf al-quran, mari-mari mengaji penuh kesungguhan, marilah mengaji fahami al-quran, hayati maksudnya dalam kehidupan..
Reply

Props Report

Rank: 7Rank: 7Rank: 7

Post on 24-10-2007 12:35 AM |All posts

Sunan Drajat - (Raden Qosim)



Sunan Drajat, also known as Syarifuddin, or Raden Qosim, was the second son of Sunan Ampel and younger brother of Sunan Bonang. He received religious training from his father in Surabaya, following which he moved to the region of Paciran, settling in the village of Jelag. After about two years he had attracted quite a large following and in A.D. 1502 built a mosque. The other members of the Wali Songo attended the official opening. The village of Jelag, later to be known as Drajat, was eventually granted to the Sunan and his descendants as a token of respect by the Sultan of Demak. Sunan Drajat is best known for his social activity and charitable works, which he carried out in the Paciran area for almost forty years. He is said to have created the Gending Pangkur, a special melody for the traditional Javanese gamelan orchestra, with which he converted the local populace. Some fragments of these ancient instruments have been preserved and are now on display in a small museum next to the Sunan's tomb.
marilah mengaji kenal huruf al-quran, mari-mari mengaji penuh kesungguhan, marilah mengaji fahami al-quran, hayati maksudnya dalam kehidupan..
Reply

Props Report

Rank: 7Rank: 7Rank: 7

Post on 24-10-2007 12:37 AM |All posts

Sunan Bonang - (Raden Makhdum Ibrahim)



Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri,  yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha. Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.  Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.  Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat 'cinta'('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.  Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah "Suluk Wijil" yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri. Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang.  Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan 'isbah (peneguhan).
marilah mengaji kenal huruf al-quran, mari-mari mengaji penuh kesungguhan, marilah mengaji fahami al-quran, hayati maksudnya dalam kehidupan..
Reply

Props Report

Rank: 7Rank: 7Rank: 7

Post on 24-10-2007 12:38 AM |All posts

Sunan Kudus - (Ja'far Shodiq)



Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali --yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.  Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti "sapi betina". Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.
marilah mengaji kenal huruf al-quran, mari-mari mengaji penuh kesungguhan, marilah mengaji fahami al-quran, hayati maksudnya dalam kehidupan..
Reply

Props Report

Rank: 7Rank: 7Rank: 7

Post on 24-10-2007 12:40 AM |All posts

Sunan Muria - (Raden Umar Said)



Ia putra Dewi Saroh --adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus.Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.  Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti .
marilah mengaji kenal huruf al-quran, mari-mari mengaji penuh kesungguhan, marilah mengaji fahami al-quran, hayati maksudnya dalam kehidupan..
Reply

Props Report

Rank: 7Rank: 7Rank: 7

Post on 24-10-2007 12:42 AM |All posts

Sunan Kalijaga - (Raden Mas Said)



Dialah "wali" yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam. Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam ('kungkum') di sungai (kali) atau "jaga kali". Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab "qadli dzaqa" yang menunjuk statusnya sebagai "penghulu suci" kesultanan.  Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga. Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.  Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede - Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak
marilah mengaji kenal huruf al-quran, mari-mari mengaji penuh kesungguhan, marilah mengaji fahami al-quran, hayati maksudnya dalam kehidupan..
Reply

Props Report

Rank: 7Rank: 7Rank: 7

Post on 24-10-2007 12:43 AM |All posts

Sunan Gunung Jati - (Syarif Hidayatullah)



Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra' Mi'raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii). Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya "wali songo" yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.  Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah. Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.  Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.
marilah mengaji kenal huruf al-quran, mari-mari mengaji penuh kesungguhan, marilah mengaji fahami al-quran, hayati maksudnya dalam kehidupan..
Reply

Props Report

Conqueror

EVO7 Limited Edition

Rank: 16Rank: 16Rank: 16Rank: 16

Post on 24-10-2007 11:57 AM |All posts
Originally posted by goldraja at 23-10-2007 11:46 PM
kpd tuan rumah..
izinkan aku berkongsi info dlm thread ni ye..



Dipersilakan Raja Emas
Reply

Props Report

Rank: 7Rank: 7Rank: 7

Post on 24-10-2007 03:37 PM |All posts

Syed Abdur Rahman bin Muhammad Al-Aydrus (Tokku Paloh)


Maqam Syed Abdur Rahman bin Muhammad Al-Aydrus (To'ku Paloh)

Darah perjuangan Tok Ku Paloh dalam memperjuangkan Islam dan bangsa Melayu tidak dapat dinafikan mempunyai kesan tersendiri dalam tubuh Syeikh Ahmad al-Fathani. Isu kemaslahatan Islam dan bangsa Melayu yang menghadapi pelbagai masalah penjajah pada zaman itu perlu dilihat dalam konteks hubungan antara Syeikh Ahmad al-Fathani, Tok Ku Paloh dan Sultan Zainal Abidin III, Terengganu.

Tok Ku Paloh dirahmati berumur panjang. Beliau meninggal dunia pada bulan Zulhijjah 1335 H/September 1917 M. Bererti ketika meninggal dunia Tok Ku Paloh berusia sekitar 102 tahun menurut perhitungan tahun hijrah atau 100 tahun menurut tahun masihi.

Nama penuh beliau ialah Saiyid Abdur Rahman bin Saiyid Muhammad bin Saiyid Zainal Abidin al-Aidrus. Saiyid Abdur Rahman al-Aidrus mempunyai beberapa nama gelaran, yang paling popular ialah Tok Ku Paloh. Gelaran lain ialah Engku Saiyid Paloh, Engku Cik, Tuan Cik dan Syaikh al-Islam Terengganu. Tok Ku Paloh mempunyai beberapa orang adik-beradik. Ada yang seibu sebapa dan ada juga yang berlainan ibu. Adik-beradik kandung Tok Ku Paloh ialah Saiyid Zainal Abidin al-Aidrus yang digelar dengan Engku Saiyid Seri Perdana, Saiyid Ahmad al-Aidrus digelar Tok Ku Tuan Ngah Seberang Baruh dan Saiyid Mustafa al-Aidrus yang digelar Tok Ku Tuan Dalam.

Beliau ialah seorang ulama dan Ahli Majlis Mesyuarat Negeri semasa pemerintahan Sultan Zainal Abidin III. Adik-beradiknya selain yang disebut itu ialah Tuan Embung Abu Bakar atau digelar dengan nama Tuan Embung Solok atau Tok Ku Tuan Kecik, Tuan Nik (Senik). Antara nama-nama tersebut, ramai yang memegang peranan penting dalam Kerajaan Terengganu tetapi nama yang paling masyhur ialah Tok Ku Paloh.
marilah mengaji kenal huruf al-quran, mari-mari mengaji penuh kesungguhan, marilah mengaji fahami al-quran, hayati maksudnya dalam kehidupan..
Reply

Props Report

Rank: 7Rank: 7Rank: 7

Post on 24-10-2007 03:38 PM |All posts
Pendidikan

Saiyid Abdur Rahman al-Aidrus atau Tok Ku Paloh berketurunan 'Saiyid'. Oleh itu sudah menjadi tradisi keturunan itu untuk lebih mengutamakan usaha mempelajari ilmu-ilmu daripada orang yang terdekat dengan mereka. Ayah beliau, Saiyid Muhammad al-Aidrus atau Tok Ku Tuan Besar, pula merupakan seorang ulama besar yang mempunyai kedudukan tertinggi dalam urusan Islam di Terengganu. Dapat dipastikan Saiyid Abdur Rahman al-Aidrus telah belajar pelbagai bidang ilmu daripada orang tuanya sendiri.

Hampir semua orang yang menjadi ulama di Terengganu pada zaman itu memperoleh ilmu melalui jalur daripada ulama-ulama yang berasal dari Patani. Saiyid Abdur Rahman al-Aidrus, selain belajar daripada ayahnya, juga berguru dengan Syeikh Wan Abdullah bin Muhammad Amin al-Fathani atau Tok Syeikh Duyung (lihat Utusan Malaysia, Isnin, 6 Mac 2006).

Saiyid Muhammad al-Aidrus atau Tok Ku Tuan Besar dan Tok Syeikh Duyung bersahabat baik dan sama-sama belajar daripada Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahim al-Fathani di Bukit Bayas, Terengganu. Mereka juga sama-sama belajar dengan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani di Mekah.

Dalam artikel ini saya terpaksa menjawab satu e-mel dari Brunei Darussalam yang bertanyakan apakah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani berketurunan Nabi Muhammad s.a.w.? Sepanjang dokumen yang ditemui ada tulisan meletakkan nama 'Wan' pada awal nama beliau. Ada saudara pupu saya di Mekah memberi maklumat bahawa beliau menemui satu catatan Syeikh Ismail al-Fathani (Pak De 'El al-Fathani) bahawa ulama Patani itu juga berketurunan marga 'al-Aidrus'.

Sejak dulu saya mengetahui ada catatan lain menyebut hal yang sama bahawa Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahim al-Fathani di Bukit Bayas, Terengganu juga termasuk marga 'al-Aidrus'. Dengan keterangan ini bererti antara ulama Patani dengan ulama Terengganu yang diriwayatkan ini selain ada hubungan keilmuan mereka juga ada perhubungan nasab.

Perjuangan

Saiyid Abdur Rahman al-Aidrus (Tok Ku Paloh) melanjutkan pelajarannya di Mekah. Di sana beliau bersahabat dengan Syeikh Muhammad Zain bin Mustafa al-Fathani, Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani, Syeikh Nawawi al-Bantani, Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani (kelahiran Sungai Duyung Kecil, Terengganu) dan ramai lagi. Antara orang yang menjadi guru mereka di Mekah ialah Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan dan Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki.

Saiyid Abdur Rahman al-Aidrus setelah pulang dari Mekah memusatkan aktivitinya di Kampung Paloh, Terengganu. Menurut Muhammad Abu Bakar, Kampung Paloh didatangi orang daripada pelbagai jurusan, bukan saja dari sekitar Kuala Terengganu, tetapi juga dari Kelantan, Pahang dan Patani (Ulama Terengganu, hlm. 181). Diriwayatkan bahawa salah seorang murid Tok Ku Paloh ialah Sultan Zainal Abidin III. Riwayat lain pula mengatakan antara muridnya yang terkenal dan menjadi pejuang antipenjajah ialah Haji Abdur Rahman Limbung dan Tok Janggut.

Tok Ku Paloh ialah ulama yang tidak takut menanggung risiko tinggi dalam perjuangan demi mempertahankan Islam dan bangsa Melayu. Beliau melindungi pejuang-pejuang Islam dan Melayu yang bermusuh dengan penjajah Inggeris pada zaman itu. Semangat jihadnya sungguh indah, menarik dan ada hembusan segar seperti yang diriwayatkan oleh Muhammad Abu Bakar.

Katanya: "Dalam Perang Pahang, penentang-penentang British yang dipimpin oleh Datuk Bahaman, Tok Gajah dan Mat Kilau hampir-hampir menyerah diri setelah mengalami tekanan daripada kerajaan".

"Pada Mei 1894, mereka menghubungi Tok Ku Paloh, dan mendapat simpati daripada ulama tersebut. Ini bukan sahaja memberi nafas baru kepada perjuangan mereka, tetapi mereka juga diberi perlindungan di Paloh serta diajar ilmu untuk menentang musuh mereka di Pahang. Hugh Clifford dalam pemerhatiannya mengatakan Tok Ku Paloh telah menyeru pahlawan-pahlawan itu melancarkan perang jihad.

"Hasil semangat baru yang diperoleh daripada Tok Ku Paloh, serta penambahan kekuatan, pasukan pahlawan menjadi lebih besar dan tersusun." (Ulama Terengganu, hlm. 184)

Daripada riwayat ini, kita dapat mengambil iktibar berdasarkan peristiwa dunia terkini bahawa ramai tokoh Islam menjadi pejuang Islam dan bangsanya, dan ramai pula yang menjadi pengkhianat. Afghanistan, Iraq, Palestin dan Lebanon menjadi sasaran bom yang dilancarkan oleh bangsa-bangsa bukan Islam. Ada ramai pejuang Islam di sana. Pengkhianat pun banyak. Bangsa kita, bangsa Melayu yang beragama Islam, patut mencontohi perjuangan bijak Tok Ku Paloh. Janganlah ada manusia Melayu yang khianat terhadap agama Islam dan bangsanya.

Tok Ku Paloh sangat berpengaruh terhadap murid dan saudara ipar beliau iaitu Sultan Zainal Abidin III. Beberapa pandangan dan nasihat Tok Ku Paloh kepada Sultan Zainal Abidin III tentang pentadbiran kerajaan banyak persamaan dengan surat-surat dan puisi Syeikh Ahmad al-Fathani kepada Sultan Terengganu itu. Semasa Tok Ku Paloh dan Sultan Zainal Abidin III masih hidup, Inggeris tidak berhasil mencampuri pentadbiran negeri Terengganu.

Tok Ku Paloh wafat pada bulan Zulhijjah 1335 H/September 1917 M dan Sultan Zainal Abidin III mangkat pada 22 Safar 1337 H/26 November 1918 M. Sesudah itu, tepat pada 24 Mei 1919 M barulah Inggeris dapat mencampuri kerajaan Terengganu.
marilah mengaji kenal huruf al-quran, mari-mari mengaji penuh kesungguhan, marilah mengaji fahami al-quran, hayati maksudnya dalam kehidupan..
Reply

Props Report

Rank: 7Rank: 7Rank: 7

Post on 24-10-2007 03:39 PM |All posts
Penulisan

Ahli sejarah, Datuk Misbaha ada menyebut bahawa risalah 'Uqud ad-Durratain adalah karya Tok Ku Tuan Besar, berdasarkan cetakan tahun 1950 oleh ahli-ahli Al-Khair dan cetakan pada tahun 1978 oleh Yayasan Islam Terengganu (Pesaka, hlm. 91). Tetapi pada cetakan yang jauh lebih awal berupa selembaran dalam ukuran besar yang diberi judul Dhiya' 'Uqud ad-Durratain, ia merupakan karya Tok Ku Paloh. Tertulis pada cetakan itu, "Telah mengeluar dan mengecapkan terjemah ini oleh kita as-Saiyid Abdur Rahman bin Muhammad bin Zain bin Husein bin Mustafa al-Aidrus...."

Di bawah doa dalam risalah itu dinyatakan kalimat, "Tiada dibenarkan sekali-kali siapa-siapa mengecapkan terjemah ini melainkan dengan izin Muallifnya dan Multazimnya Ismail Fathani. Tercap kepada 22 Ramadan sanah 1335 (bersamaan dengan 11 Julai 1917 M)."

Yang dimaksudkan Ismail Fathani pada kalimat ini ialah Kadi Haji Wan Ismail bin Syeikh Ahmad al-Fathani. Risalah cetakan ini saya terima daripada salah seorang murid Haji Wan Ismail Fathani.

Beliau menjelaskan bahawa risalah itu diajarkan di Jambu, Patani secara hafalan. Orang yang menyerahkan risalah itu bernama Nik Wan Halimah yang berusia lebih kurang 78 tahun (Oktober 2000). Ketika beliau menyerahkan risalah itu kepada saya, beliau masih hafal apa yang termaktub dalam risalah itu.

Kemuncak penulisan Tok Ku Paloh yang sering diperkatakan orang ialah kitab yang diberi judul Ma'arij al-Lahfan. Sungguhpun kitab ini sangat terkenal dalam kalangan masyarakat sufi sekitar Terengganu, Kelantan dan Pahang namun ia belum dijumpai dalam bentuk cetakan.

Saya hanya sempat membaca tiga buah salinan manuskrip kitab itu. Ilmu yang terkandung di dalamnya adalah mengenai tasawuf.

Sebagaimana telah disebutkan, Tok Ku Paloh ialah seorang pejuang Islam dan bangsa. Beliau ialah penganut Thariqat Naqsyabandiyah.

Antara anak Tokku Paloh ialah Saiyid Aqil bin Saiyid Abdur Rahman al-Aidrus. Beliau inilah yang bertanggungjawab mentashhih dan menerbitkan kitab nazam Kanz al-Ula karya datuknya, Tok Ku Tuan Besar, terbitan Mathba'ah al-Ahliyah Terengganu, 1347 H.
1

View rating log

marilah mengaji kenal huruf al-quran, mari-mari mengaji penuh kesungguhan, marilah mengaji fahami al-quran, hayati maksudnya dalam kehidupan..
Reply

Props Report

Rank: 9Rank: 9Rank: 9

Post on 25-10-2007 11:52 AM |All posts
hehe..

amek dari wikipedia ek..?
heal the past | live the present | dream the future
Reply

Props Report

Rank: 7Rank: 7Rank: 7

Post on 26-10-2007 09:28 PM |All posts

Reply #37 selendangmerah's post

mana2 sumber pun boleh.. yg penting ilmu yg berguna

[ Last edited by  goldraja at 26-10-2007 09:34 PM ]
marilah mengaji kenal huruf al-quran, mari-mari mengaji penuh kesungguhan, marilah mengaji fahami al-quran, hayati maksudnya dalam kehidupan..
Reply

Props Report

Conqueror

EVO7 Limited Edition

Rank: 16Rank: 16Rank: 16Rank: 16

Post on 26-10-2007 10:48 PM |All posts
Ismail al-Kalantani - Mufti Kerajaan Pontianak


Oleh WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH


Sunday, November 12, 2006


ULAMA yang berasal dari Kelantan ini pernah penulis riwayatnya di dalam Majalah Pengasuh yang diperlengkapkan oleh Ismail Awang. Selanjutnya dimuat dalam buku Tokoh-Tokoh Ulama Semenanjung Melayu (jilid 1), yang diselenggarakan oleh Ismail Che Daud dan diterbitkan oleh Majlis Ugama Islam Dan Adat Istiadat Melayu Kelantan, cetakan pertama, 1988. Beberapa tahun kemudian penulis menemui data-data baru mengenai ulama Kelantan yang pernah menjadi Mufti Kerajaan Pontianak di Kalimantan Barat ini, oleh itu riwayat mengenainya ditulis kembali di dalam ruangan Agama, Utusan Malaysia ini.

Nama lengkapnya ialah Ismail bin Haji Abdul Majid bin Haji Abdul Qadir al-Kalantani. Lahir di Kampung Labok, Macang, Kelantan. Mengenai tahun lahir dan wafatnya masih perlu dikaji kembali. Pendapat awal menyebut bahawa Ismail Kelantan lahir pada tahun 1293 Hijrah/1876 Masihi. Ismail Che' Daud menjelaskan pada notanya bahawa ulama tersebut lahir pada awal tahun 1300 Hijrah/1882 Masihi. Demikian tentang wafatnya bahawa pendapat awal menyebut tahun 1365 Hijrah/1946 Masihi, Ismail Che' Daud menyebut kemungkinan pada tahun 1370 Hijrah/1951 Masihi atau terkemudian lagi.

PENDIDIKAN

Ismail dan abangnya Muhammad Nuh (yang kemudian dikenali sebagai Haji Nuh Kaya) setelah memperoleh pendidikan asas di Kelantan, dihantar belajar ke Mekah. Di Mekah, Ismail sempat mengikuti majlis pengajian Syeikh Ahmad al-Fathani, sama ada di rumah mahu pun di Masjid al-Haram. Ada orang meriwayatkan bahawa Ismail Kelantan pulang ke Kelantan sesudah haji pada tahun 1325 Hijrah/1908 Masihi, iaitu tahun kewafatan Syeikh Ahmad al-Fathani (wafat 11 Zulhijjah 1325 Hijrah/18 Januari 1908 Masihi). Riwayat lain menyebut bahawa setelah Syeikh Ahmad al-Fathani meninggal dunia, Ismail Kelantan meneruskan pengajiannya kepada beberapa orang ulama besar Mekah, antaranya Saiyid Abdullah az-Zawawi (lahir 1266 Hijrah/1850 Masihi, wafat 1343 Hijrah/1924 Masihi), Syeikh Muhammad Mahfuz bin Abdullah at-Tarmasi dan ramai lagi. Syeikh Muhammad Mahfuz bin Abdullah at-Tarmasi berasal dari Termas (Jawa) adalah seorang ulama besar Mazhab Syafie dan ahli dalam ilmu hadis. Beliau mempunyai beberapa karangan yang besar, antaranya Muhibah Zawin Nazhar yang tebalnya empat jilid.

Hubungan mesra antara Ismail Kelantan dengan Saiyid Abdullah az-Zawawi sejak beliau belajar di Mekah lagi, yang ketika itu Saiyid Abdullah az-Zawawi adalah seorang Mufti Mazhab Syafie di Mekah. Ketika pergolakan Wahhabi di Mekah, beberapa orang ulama tidak aman tinggal di Mekah, termasuklah Saiyid Abdullah az-Zawawi. Haji Ismail Kelantan mengikut gurunya Saiyid Abdullah az-Zawawi itu berhijrah dari Mekah ke Riau dan selanjutnya ke Pontianak. Sewaktu Saiyid Abdullah az-Zawawi menjadi Mufti Pontianak, Ismail Kelantan terus bersama gurunya itu, belajar pelbagai bidang ilmu tiada henti-hentinya walau pun ilmu yang dikuasainya cukup banyak dan memadai. Riwayat lain menyebut bahawa Ismail Kelantan pulang ke Kelantan lebih awal (1325 Hijrah/1908 Masihi), dan selanjutnya pergi ke Cam/Kemboja.

Ilmu falak

Ismail Kelantan tidak sempat menamatkan ilmu falak yang dipelajarinya daripada Syeikh Ahmad al-Fathani. Oleh itu setelah Syeikh Ahmad al-Fathani meninggal dunia, beliau meneruskan pendidikan khusus tentang ilmu falak itu daripada Syeikh Muhammad Nur bin Muhammad bin Ismail al-Fathani. Ketika mempelajari ilmu falak daripada Syeikh Muhammad Nur al-Fathani, beliau bersama Syeikh Haji Abu Bakar bin Haji Hasan Muar.

Mengenai ketokohan Ismail Kelantan dalam ilmu falak dapat dibuktikan dalam karyanya Pedoman Kesempurnaan Manusia. Menurut cerita Ustaz Abdur Rani Mahmud (ketika masih hidup sebagai Ketua Majlis Ulama Kalimantan Barat), bahawa Ismail Kelantan adalah orang pertama yang menyebarluaskan ilmu falak di Pontianak, khususnya atau Kalimantan Barat umumnya.

KE PONTIANAK SEBAGAI MUFTI

Selain bersama gurunya Saiyid Abdullah az-Zawawi di Pontianak, Ismail Kelantan pernah menziarahi Syeikh Muhammad Yasin, seorang ulama yang berasal dari Kedah, yang tinggal di Kuala Secapah, Mempawah. Pada tahun kedatangan Ismail Kelantan ke Kuala Secapah, Mempawah itulah Syeikh Muhammad Yasin Kedah meninggal dunia. Ismail Kelantan juga menziarahi Wan Nik, seorang ulama sufi yang berasal dari Patani. Beliau tinggal dalam bandar Mempawah.

Dalam waktu yang relatif singkat, kealiman Ismail Kelantan tersebar di sekitar Mempawah dan Pontianak. Oleh sebab itu Adam, seorang hartawan Bugis di Sungai Itik, Pontianak, iaitu seorang yang sangat haus dengan ilmu pengetahuan, menjemput Ismail Kelantan mengajar di rumahnya. Bukan itu saja, atas kehendak Adam dan Mu'minah binti Haji Muhammad Thahir, mereka menjodohkan anak perempuannya dengan Ismail Kelantan. Perkahwinan dengan anak Adam itu merupakan perkahwinan Ismail Kelantan yang pertama di Pontianak. Detik-detik terakhir akan kepulangannya ke Kelantan, Ismail berkahwin lagi dengan Jamaliah yang berasal dari Tasik Malaya, Jawa Barat. Perkahwinan kedua ini adalah atas kehendak dan perintah Sultan Muhammad, Sultan Pontianak.

Daripada sepucuk surat Ismail Kelantan kepada Syarif Muhammad bin Syarif Yusuf, Sultan Pontianak, tarikh Pontianak: 28 Februari 1924, dapatlah diketahui bahawa mula-mula beliau dilantik sebagai Naib Hakim di Rad Agama Pontianak mulai tarikh 12 Ogos 1920 Masihi. Pada tarikh penulisan surat 28 Februari 1924, kedudukan Ismail Kelantan adalah sebagai Mufti di Kerajaan Pontianak.

Sewaktu Ismail Kelantan menjadi Mufti Pontianak, ada tiga orang ulama yang bernama Ismail. Dua orang lagi ialah Ismail bin Abdul Lathif (lebih dikenali dengan Ismail Jabal) dan Ismail bin Abdul Karim (lebih dikenali sebagai Ismail Mundu). Ismail bin Abdul Lathif berpangkat Adviseur Penasihat Rad Agama Kerajaan Pontianak. Ismail bin Abdul Karim (wafat pada hari Khamis, 15 Jamadilakhir 1376 Hijrah/16 Januari 1957 Masihi) pula adalah Mufti Kerajaan Kubu, sebuah kerajaan kecil di bawah naungan Kerajaan Pontianak. Ketiga-tiga ulama tersebut sangat terkenal di dalam Kerajaan Pontianak. Bahkan kerajaan-kerajaan lain di seluruh Kalimantan/Borneo.

PULANG KE KELANTAN

Ismail Kelantan pulang ke Kelantan sekitar tahun 1937. Di Kota Bharubeliau menjadi guru di Jami' Merbau yang berstatus sebagai pendidikan tinggi Islam ketika itu. Murid-murid yang diterima di Jami' Merbau adalah orang-orang yang telah mendapat pendidikan yang cukup memadai, yang datang dari seluruh Semenanjung dan Patani.

Semangat

Selain mengajar di Jami' Merbau, Ismail Kelantan juga menjadi guru dan imam di Istana Sultan Kelantan. Ismail Kelantan adalah hafiz al-Quran tiga puluh juzuk, fasih ketika berpidato dan berkhutbah di atas mimbar. Kelebihannya pula dapat mempengaruhi dan membakar semangat pendengar. Dalam satu peristiwa pergaduhan yang didalangi Bintang Tiga yang terjadi di Kota Bharu, Ismail Kelantan telah berpidato sehingga menaikkan semangat juang orang Melayu


bersambung...



[ Last edited by  HangPC2 at 26-10-2007 10:50 PM ]
Reply

Props Report

Conqueror

EVO7 Limited Edition

Rank: 16Rank: 16Rank: 16Rank: 16

Post on 26-10-2007 10:49 PM |All posts
PENULISAN

1. Fatwa Daripada as-Saiyid Abdullah Ibnu Almarhum as-Saiyid Muhammad Shalih az-Zawawi Jawab Soal Dari Tanah Jawa, diselesaikan pada 25 Syawal 1330 Hijrah. Kandungannya mengenai ayat-ayat al-Quran dalam piring hitam. Diberi gantungan makna dalam bahasa Melayu daripada karya asalnya yang ditulis dalam bahasa Arab, Rejab tahun 1326 Hijrah. Dicetak dengan kehendak as-Saiyid Ja'far bin Pangeran Syarif Abdur Rahman al-Qadri Pontianak. Dicetak di Mathba' Haji Muhammad Sa'id bin al-Marhum Haji Arsyad, No. 82 Arab Street Singapura, pada 25 Syawal 1330 Hijrah oleh Muhammad bin Haji Muhammad Sa'id, Basrah Street, No. 49 Singapura.

2. Risalah Pada Bicara Jum'at dan Sembahyang Zhuhur Mu'adah, tanpa dinyatakan tarikh selesai penulisan. Tarikh salinan 3 Rabiulawal 1345 Hijrah. Manuskrip disalin oleh Khathib Peniti Kecil, diperoleh di Pontianak pada 8 Syawal 1422 Hijrah/22 Disember 2001 Masihi. Kandungan perbahasan khilafiah mengenai sembahyang Jumaat dan sembahyang Zuhur atau mu'adah.

3. Pedoman Kemuliaan Manusia, kandungannya membicarakan rampaian berbagai-bagai ilmu, termasuk falakiyah. Cetakan yang pertama Mathba'ah al-Ma'arif, Kota Bharu, Kelantan. Taqriz/pujian: Tuan Guru Ahmad Mahir bin Haji Ismail Kemuning, Kadi Besar Negeri Kelantan (ditulis pada 22 Januari 1938), Tuan Guru Nik Muhammad Adib bin Syeikh Muhammad Daud, Jawatan Tinggi Kadi Pelawat atau Pemeriksa Kadi-kadi Dalam Kelantan (ditulis 22.11.37), Tuan Guru Abdullah Tahir bin Ahmad, Guru Besar Ugama Dalam Kelantan dan Anggota Ulama Dalam Majlis Ugama Islam Kelantan (ditulis 14 Zulkaedah 1356 Hijrah).

KETURUNAN DAN MURID

Sewaktu Ismail Kelantan pulang ke Kota Bharu, Kelantan, tiga orang anaknya dengan isteri pertama telah berumah tangga, ketiga-tiganya tidak ikut pulang ke Kelantan. Anak-anaknya yang pernah ditemui penulis ialah anaknya yang tinggal di Parit Sungai Keluang, Peniti, Kecamatan Siantan, Kabupaten Pontianak. Suaminya bernama Arif. Seorang anak Ismail Kelantan yang perempuan lainnya tinggal di Pontianak. Dipercayai ketiga-tiga anak Ismail Kelantan melahirkan keturunan yang ramai di Pontianak atau pun telah berpindah ke tempat-tempat lainnya.

Antara sekian ramai murid Ismail Kelantan di Pontianak yang sangat rapat dengan penulis ialah Ustaz Abdur Rani Mahmud. Beliau termasuk salah seorang guru penulis. Jawatan terakhir beliau ialah Ketua Majlis Ulama Kalimantan Barat. Beliau adalah tempat rujukan segala kemusykilan mengenai Islam bagi masyarakat umum dan pihak pemerintah di Kalimantan Barat.

Cerita-cerita mengenai kelebihan atau keistimewaan Ismail Kelantan banyak penulis dengar dan catat daripada Abdur Rani Mahmud. Menurut Abdur Rani Mahmud, Ismail Kelantan adalah orang pertama menyebarkan ilmu falak secara meluas di Pontianak. Katanya, ``Kemungkinan Haji Ismail Kelantan hafal Quran tiga puluh juzuk kerana di mana saja beliau duduk, mulutnya sentiasa membaca ayat-ayat al-Quran. Tangannya senantiasa memegang tasbih. Kalau mengajar mata pelajaran apapun yang diajarkannya semuanya secara hafal walau pun kitab ada di depannya.''


Reply

Props Report

Conqueror

EVO7 Limited Edition

Rank: 16Rank: 16Rank: 16Rank: 16

Post on 26-10-2007 10:54 PM |All posts
Imam Haji Mursyidi - Tokoh pentadbir Islam Sarawak


Oleh WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH


Sunday, November 12, 2006


DI DALAM ruangan Agama, Utusan Malaysia, terbitan 29 Mac 2004, Seksyen 3, halaman 9 telah diperkenalkan riwayat Syeikh Usman, seorang ulama besar yang berasal dari Sarawak. Kali ini diperkenalkan pula titihan keilmuan ulama Sarawak itu, yang dimaksudkan di sini ialah Datuk Hakim Imam Abang Haji Mursyidi bin Abang Haji Nuruddin bin Datuk Bandar Bolhasan. Nasab dari sebelah ibunya pula, bahawa ibunya bernama Dayang Aisyah binti Abang Pata bin Temenggong Marsal.

Abang Mursyidi dilahirkan di tengah-tengah Bandar Kuching, iaitu dekat Masjid India, Jalan Gambir, Kuching. Kerana beliau dilahirkan berhampiran dengan tempat peribadatan Islam, maka tidak diragukan bahawa Abang Mursyidi sejak kecil lagi telah berjinak-jinak dan mesra dengan tatacara hidup tradisi umat Islam. Dengan demikian ia membentuk keperibadiannya sepanjang hayat hinggalah beliau menemui ajalnya. Abang Mursyidi lahir pada tahun 1294 Hijrah/1877 Masihi, wafat pada hari Ahad, 29 Jamadilawal 1358 Hijrah/16 Julai 1939 Masihi.

PENDIDIKAN

Abang Mursyidi melanjutkan pengajiannya di Mekah. Dipercayai beliau belajar kepada beberapa orang ulama yang mengajar di Masjidul Haram, Mekah terutama Syeikh Usman bin Abdul Wahhab Sarawak kerana sama-sama berasal dari tempat yang sama.

Abang Mursyidi juga sempat mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru kepada gurunya, Syeikh Usman bin Abdul Wahhab Sarawak seperti Syeikh Ahmad al-Fathani, Sayid Bakri Syatha dan lain-lain. Beliau belajar kepada ulama-ulama yang tersebut dipercayai di bawah dua orang ketua tela`ah, iaitu Syeikh Usman bin Abdul Wahhab Sarawak dan Tok Kenali Kelantan.

Ulama yang telah diceritakan riwayatnya di dalam ruangan ini yang sebaya dengan Abang Mursyidi (lahir 1294 Hijrah/1877 Masihi), yang sama-sama belajar di Mekah ialah Syeikh Muhammad Sa'id, Negeri Sembilan (lahir 1292 Hijrah/1875 Masihi), Haji Abu Bakar bin Haji Hasan Muar, Johor (lahir pada tahun 1292 Hijrah/1875 Masihi), Tengku Mahmud Zuhdi al-Fathani (1293 Hijrah/1876 Masihi), Haji Muhammad Sa'id Yan, Kedah (lahir 1294 Hijrah/1877 Masihi), Haji Umar Besut (lahir 1295 Hijrah/1878 Masihi).

Memperhatikan tahun kelahiran ulama-ulama yang tersebut, maka yang benar-benar sama tahun lahir dengan Abang Mursyidi Sarawak ialah Haji Muhammad Sa'id Yan, Kedah. Kedua-duanya lahir pada tahun 1294 Hijrah/1877 Masihi.

Abang Mursyidi ketika di Mekah lebih banyak belajar kepada Syeikh Usman bin Abdul Wahhab Sarawak (lahir 1281 Hijrah/1864 Masihi) dan ulama-ulama sebaya dengannya, antaranya ialah Syeikh Daud bin Mustafa al-Fathani (lahir 1283 Hijrah/1866 Masihi), dan ramai lagi.

Selain belajar kepada dua orang ulama dunia Melayu yang sebaya umurnya, Abang Mursyidi juga belajar kepada ulama dunia Melayu yang lebih tua, yang sangat masyhur namanya ialah Syeikh Muhammad Mukhtar bin Atarid Bogor (lahir 1278 Hijrah/1862 Masihi). Beliau juga belajar kepada ulama-ulama bangsa Arab, antaranya Syeikh Muhammad Sa'id Babshail, Mufti Mazhab Syafie di Mekah pada zaman itu.

AKTIVITI

Setelah memperoleh ilmu-ilmu teras keIslaman di Mekah, Abang Mursyidi pulang ke Kuching. Peringkat awal kepulangannya, beliau dilantik menjadi imam, khatib dan guru agama. Ketiga-tiga jawatan itu dilaksanakannya di Masjid India, iaitu masjid kawasan yang berdekatan kelahirannya.

Sebagai seorang guru agama di masjid, di surau dan di rumah, Abang Mursyidi nampaknya belum begitu puas, lalu dalam tahun 1917 Masihi dilanjutkannya dengan mendirikan sebuah madrasah yang dinamakan dengan Al-Madrasatul Mursyidiyah.

Madrasah yang diasaskan oleh Abang Mursyidi tersebut merupakan madrasah pertama di Kuching, bahkan yang pertama di negeri Sarawak. Nama Mursyidiyah diberikan adalah sempena nama Abang Mursyidi, namun beliau adalah seorang warak yang tidak suka menonjolkan diri, senantiasa mengelakkan diri daripada riyak, barangkali kerana itulah tindakan beliau selanjutnya menukar nama madrasah tersebut daripada Al-Madrasatul Mursyidiyah menjadi Al-Madrasatul Islamiyah.

Untuk lebih memperkemas pendidikan Islam bagi kaum perempuan, Abang Mursyidi bersama dua orang sahabatnya, Datuk Petinggi Abang Haji Abdullah dan Abang Haji Bolhasan telah berhasil mendirikan tempat pendidikan itu. Tempat pendidikan perempuan dalam bidang al-Quran, akidah, fikah dan lain-lain pengetahuan Islam asasi yang mereka dirikan itu dikenali dengan nama Sekolah Kajang.

Aktiviti Abang Mursyidi sebagai seorang Datuk Hakim, diriwayatkan bermula pada 23 Februari 1925. Dalam masa yang sama dilantik juga sebagai Supreme Council dan Council Negeri. Kemudian diangkat pula dengan gelar Datuk Imam pada 1 Julai 1932. Dilantik menjadi pengadil darjah yang keempat pada 1 Ogos 1933.

Beliau menjadi ahli jawatan Lembaga Peperiksaan bagi pegawai-pegawai tinggi kerajaan pada 26 September 1936. Memperhatikan maklumat tersebut bererti Abang Mursyidi adalah seorang ulama yang sangat aktif dalam seluruh sektor aktiviti kepentingan pentadbiran dan kemajuan kerajaan negeri Sarawak pada zamannya.

Selain aktiviti-aktiviti yang tersebut di atas, Abang Mursyidi bersama beberapa orang ulama di Sarawak menubuhkan Majlis Syuyukhil Islami. Kemudian pada 1 Mei 1955 nama itu bertukar menjadi Majlis Agama Islam Sarawak. Mereka yang dianggap sebagai pengasas pertubuhan tersebut ialah Datuk Hakim Imam Haji Mursyidi sebagai pencetus idea dan sebagai ketua pertubuhan. Sebagai anggota ialah Mufti Abang Haji Nawawi, Tuan Haji Burhan, Abang Haji Julaihi, dan Tuan Haji Muhammad Saleh.

Langkah Abang Mursyidi dalam memperjuangkan pendidikan Islam dan lain-lain kepentingan Islam dan suku kaum Melayu di Sarawak dalam zaman penjajah Inggeris ketika itu adalah dipandang sangat bijak yang tidak akan ditemui pada peribadi yang tidak bertanggungjawab terhadap agama Islam yang dianutnya, negeri kelahiran dan bangsanya.

Walaupun Abang Mursyidi adalah Datuk Imam dan Datuk Hakim, kemungkinan kedudukan yang tertinggi untuk orang Islam dan Melayu di bumi Sarawak yang sedang dijajah oleh Inggeris ketika itu, namun beliau tidak mengabaikan dan melalaikan tanggungjawabnya sebagai ulama penyebar ilmu mengajar di masjid dan madrasah yang diasaskannya.


bersambung...

Reply

Props Report

Conqueror

EVO7 Limited Edition

Rank: 16Rank: 16Rank: 16Rank: 16

Post on 26-10-2007 10:55 PM |All posts
MURID-MURIDNYA

Ramai murid Datuk Hakim Imam Mursyidi yang menjadi ulama dan tokoh di Sarawak. Mereka adalah generasi penerus penyebaran Islam. Sama ada murid-murid Datuk Hakim Imam Haji Mursyidi sendiri atau pun murid-murid Al-Madrasatul Islamiyah yang beliau asaskan menurunkan murid yang ramai pula, sambung bersambung sampai sekarang ini.

Bererti pahala amal jariyah untuk Datuk Hakim Imam Haji Mursyidi berjalan terus kerana ilmu bermanfaat yang disebarkan dan madrasah tempat belajar ilmu yang diwakafkan.

Antara murid Datuk Hakim Imam Mursyidi yang sempat penulis temui berulang kali (tahun 1976 di Johor Bahru, terakhir di Kuching, tahun 2003) ialah Haji Ataillah bin Syeikh Zainuddin as-Sarawaqi.

Beliau adalah cucu Syeikh Usman Sarawak yang sangat terkenal itu. Daripada Tuan Haji Ataillah, penulis banyak memperoleh maklumat tentang ulama Sarawak terutama datuknya Syeikh Usman Sarawak dan Haji Mursyidi yang diriwayatkan ini.

Ada hal menarik yang masih dalam penelitian penulis, bahawa antara orang yang terdekat hubungan dengan Datuk Hakim Imam Haji Mursyidi adalah seorang ulama yang berasal dari Sarawak bernama Haji Muhammad Saleh Sarawak. Penulis belum dapat mempastikan apakah pada zaman yang sama terdapat beberapa orang ulama Sarawak yang bernama Haji Muhammad Saleh atau hanya seorang.

Diriwayatkan bahawa Haji Muhammad Saleh (belum diketahui nama orang tuanya) turut bersama Datuk Hakim Imam Haji Mursyidi mengasaskan Majlis Syuyukhil Islami atau yang kemudian dinamakan Majlis Islam Sarawak. Haji Muhammad Saleh ini belum diketahui secara jelas apakah murid beliau atau pun sahabatnya.

Ada lagi yang bernama Haji Muhammad Saleh Arif, beliau benar-benar murid Datuk Hakim Imam Haji Mursyidi. Haji Muhammad Saleh Arif diriwayatkan adalah seorang ulama yang suka merantau dan pernah sampai ke Sambas, Kalimantan Barat.

Dengan maklumat di atas, penulis masih tertanya-tanya, kerana adalagi se-orang ulama Sarawak bernama Haji Muhammad Saleh yang hidup sezaman dengan Datuk Hakim Imam Haji Mursyidi yang menyebarkan Islam di Kalimantan Barat. Haji Muhammad Saleh ini sangat terkenal, merantau dan menguasai penyebaran Islam di beberapa tempat yang berjauhan, dan meninggalkan keturunan pula. Tempat-tempat Haji Muhammad Saleh Sarawak pernah mengajar yang pernah penulis jejaki ialah Pontianak, Ketapang, Sintang, Semitau dan Sungai Bundung (Mempawah).

Oleh kerana terkenalnya ulama Sarawak itu, maka penulis pernah berjalan kaki mulai Sambas, Seluas, memasuki Jagoi Babang ke Serikin seterusnya sampai Kuching awal tahun 1970. Maklumat yang diperoleh di Kuching tentang beliau tidak seimbang dengan jerih payah merentas sungai dan jalan kaki yang demikian jauh.

KEKELUARGAANNYA

Datuk Hakim Imam Haji Mursyidi mempunyai 8 orang adik beradik; Abang Ikram, Abang Saad, Abang Asnawi, Abang Haji Azhari, Abang Juwaini, Datuk Hakim Imam Abang Haji Mursyidi, Dayang Jinu dan Dayang Atut.

Beliau mendirikan rumah tangga beberapa kali dan meninggalkan anak dan zuriat. Perkahwinan yang pertama dengan Dayang Yong binti Abang Haji Matusin bin Patinggi Gapur, memperoleh seorang anak, Abang Fadail. Setelah isteri yang pertama meninggal dunia, Abang Mursyidi berkahwin lagi dengan Dayang Hafidah dan memperoleh 8 orang anak; Abang Zainurin, Abang Muhammad Zain, Abang Syafi'ie, Abang Usman, Dayang Munah, Abang `Abdul Malik, Dayang Minah dan Dayang Diyun. Setelah Dayang Hafidah (isteri kedua) meninggal dunia, Abang Mursyidi berkahwin pula dengan Dayang Siah tetapi tiada memperoleh anak.

Daripada maklumat di atas dapat diambil kesimpulan bahawa Datuk Hakim Imam Abang Haji Mursyidi mempunyai ramai adik beradik dan ramai anak dan keturunan.

Reply

Props Report

Conqueror

EVO7 Limited Edition

Rank: 16Rank: 16Rank: 16Rank: 16

Post on 26-10-2007 10:59 PM |All posts
Husein Kedah al-Banjari - Generasi penerus ulama Banjar


Oleh WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH


Sunday, November 12, 2006


APABILA kita membicarakan keturunan ulama yang terlibat dalam penulisan kitab-kitab pengetahuan Islam di dunia Melayu, maka saham atau andel terbesar ialah keluarga besar ulama Patani, yang melibatkan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fathani, Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani dan ramai lagi. Sesudah ulama Patani, demikian juga keluarga besar ulama Banjar. Mengenainya dimulai oleh Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari dan keturunan beliau.

Salah seorang keturunan Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari yang menyatu darah dengan orang Kedah ialah Tuan Husein Kedah al-Banjari. Nama lengkapnya ialah Tuan Haji Husein Kedah bin Muhammad Nashir bin Syeikh Muhammad Thaiyib bin Syeikh Mas'ud bin Qadhi Abu Su'ud bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari bin Abdullah. Tuan Husein lahir di Titi Gajah, Alor Setar, Kedah, hari Ahad, 20 Jamadilawal 1280 Hijrah/2 November 1863 Masihi dan meninggal dunia pada hari Isnin, 18 Zulkaedah 1354 Hijrah/10 Februari 1936 Masihi).

Pendidikan

Tuan Husein Kedah al-Banjari sebaya umur dengan Haji Muhammad Saleh, Pulau Pisang, Darul Qiyam, Kedah (Ulama Nusantara, Utusan Malaysia, Isnin, 31 Mei 2004) kerana sama-sama lahir dalam tahun 1280 Hijrah/1863/4 Masihi. Barangkali ada hubungan erat antara kedua-dua ulama itu kerana ibu Tuan Husein bernama Tengku Fatimah binti Tengku Mahmud, juga berasal dari daerah Kubang Pasu.

Tuan Husein Kedah mendapat pendidikan asas sistem pondok daripada datuknya Haji Muhammad Thaiyib Kedah al-Banjari, seorang ulama besar yang juga menghasilkan beberapa buah karangan. Pelajaran dilanjutkan di Patani, di Pondok Bendang Daya dan sempat belajar kepada pengasasnya, Haji Wan Mushthafa bin Muhammad al-Fathani (Tok Bendang Daya I) dan selanjutnya kepada anak beliau, Syeikh Abdul Qadir (Tok Bendang DayaII). Ketika di Bendang Daya dipercayai beliau bersahabat dengan Wan Ismail bin Mushthafa (Cik Doi) dan Tok Kelaba. Selain di Bendang Daya Tuan Husein juga pernah belajar di Pondok Semela.

Untuk lebih memantap dan memperdalam pelbagai ilmu Tuan Husein melanjutkan pelajarannya ke Mekah. Sewaktu di Mekah dipercayai Tuan Husein Kedah al-Banjari bersahabat dengan Haji Muhammad Saleh, Pulau Pisang. Di antara guru kedua-duanya ialah Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani, Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, Sayid Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki dan ramai lagi. Di antara guru kedua-duanya yang paling muda ialah Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani, dan yang lebih tua antara tujuh atau lapan tahun saja daripada kedua-duanya.

Sungguhpun tulisan ini pada mulanya adalah untuk memfokuskan penulisan kitab yang telah dihasilkan oleh Tuan Husein Kedah al-Banjari, namun perlu juga disentuh bahawa perjuangan beliau dalam segi mengajar sama ada di pondok pengajian yang diasaskannya mahupun mengajar kitab di tempat-tempat tertentu adalah sejalan, seimbang dan sama berat dengan penulisan. Oleh itu Tuan Husein Kedah dapat kita klasifikasikan sebagai seorang ulama besar yang sangat gigih dalam perjuangan menggunakan kalam (perkataan) dan qalam (pena/ penulisan) demi penyebaran ilmu pengetahuan Islam.

bersambung...

Reply

Props Report

Conqueror

EVO7 Limited Edition

Rank: 16Rank: 16Rank: 16Rank: 16

Post on 26-10-2007 10:59 PM |All posts
Penulisan

1. An-Nurul Mustafid fi Aqaidi Ahlit Tauhid, diselesaikan pada tahun 1305 Hijrah/1888 Masihi. Kandungannya membicarakan tentang tauhid, akidah Ahlis Sunnah wal Jamaah.

2. Tamrinush Shibyan fi Bayani Arkanil Islam wal Iman, diselesaikan pada hari Sabtu, 1 Syaaban 1318 Hijrah. Menggunakan nama Husein Nashir bin Muhammad Thaiyib al-Mas'udi al-Banjari. Kandungannya membicarakan tauhid, akidah Ahlis Sunnah wal Jamaah dinyatakan rujukannya ialah Ummul Barahin, Syarah Hudhudi, karya as-Suhaimi, Hasyiyah Syarqawi dan Dhiyaul Murid. Dicetak oleh Mathba'ah Dar Ihya' al-Kutub al-'Arabiyah, Mesir, Zulkaedah 1346 Hijrah, ditashhih oleh Ilyas Ya'qub al-Azhari.

3. Hidayatus Shibyan fi Ma'rifatil Islam wal Iman, menggunakan nama Abi Abdullah Husein Nashir bin Muhammad Thaiyib al-Mas'udi al-Banjari. Diselesaikan pada hari Isnin, 18 Muharam 1330 Hijrah. Kandungannya membicarakan tentang tauhid dan fikah. Cetakan yang pertama Mathba'ah At-Taraqqil Majidiyah al-'Utsmaniyah 1330 Hijrah. Dicetak pula oleh Mathba'ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan Singapura, 1345 Hijrah/1927 Masihi. Ditashhih oleh Syeikh Idris bin Husein al-Kalantani.

4. Kisarul Aksir lish Shaghir `indal Kabir li Ma'rifatillahil `Alimil Khabir, diselesaikan pada hari Khamis, 25 Rabiulakhir 1336 Hijrah. Kandungannya membicarakan tentang tasauf dan thariqat. Cetakan yang ketiga, Al-Huda Press, Pulau Pinang, Safar 1356 Hijrah/April 1937 Masihi. Kitab ini baru diperoleh di Kampung Pulau Pisang, Kedah, pada 26 Jamadilawal 1425 Hijrah/14 Julai 2004 Masihi.

5. Hidayatul Athfal, diselesaikan pada 1336 Hijrah. Kandungannya pelajaran tauhid untuk kanak-kanak.

6. Hidayatul Mutafakkirin fi Tahqiqi Ma'rifati Rabbil `Alamin, diselesaikan pada 3 Rabiulakhir 1337 Hijrah. Kandungannya membicarakan tentang tauhid, menurut akidah Ahli Sunnah wal Jamaah. Cetakan yang pertama Mathba'ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan Singapura, 1345 Hijrah/1927 Masihi. Cetakan yang kelima, Mathba'ah Persama, 83-85, Achen Street, dekat Masjid Melayu, Pulau Pinang, 1377 Hijrah/1957 Masihi.

7. Tafrihus Shibyan fi Maulidin Nabi min Waladi `Adnan, diselesaikan pada hari Selasa 3 Rabiulawal 1341 Hijrah. Kandungannya mengenai sejarah kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Dicetak oleh Mathba'ah Persama, 83-85, Achen Street, dekat Masjid Melayu, Pulau Pinang, 1382 Hijrah/1962 Masihi.

8. Tazkiru Qabailil Qadhi, diselesaikan pada 1343 Hijrah. Kandungannya merupakan Terjemahan Hadits Jawahir al-Bukhari, terdiri daripada dua juzuk, yang telah dijumpai hanya juzuk yang pertama saja. Cetakan yang pertama, Al-Maktabah Zainiyah, Taiping Perak, 1350 Hijrah. Dicatatkan, ``Titah membenarkan dicetak dari bawah Duli Yang Maha Mulia as-Sultan Perak atas minit paper Qadhi Kuala Kangsar nombor 149/30''.

9. Bidayatut Thalibin ila Ma'rifati Rabbil `Alamin, diselesaikan 1344 Hijrah. Kandungannya membicarakan ilmu tauhid. Cetakan yang kedua The United Press, No. 3 Dato' Keramat Road, Pulau Pinang, 1357 Hijrah. Ditashhih oleh Ilyas Ya'qub al-Azhari.

10. `Alaqatul Lamiyah wash Sharfiyah, diselesaikan 1345 Hijrah. Kandungannya membicarakan ilmu sharaf atau perubahan perkataan dalam bahasa Arab.

11. Ushulut Tauhid fi Ma'rifati Thuruqil Iman lir Rabbil Majid, diselesaikan 6 Syawal 1346 Hijrah. Kandungannya membicarakan falsafah ilmu tauhid dan ilmu fikah. Dicetak oleh Mathba'ah Az-Zainiyah, Taiping, Perak, hari Jumaat, 4 Jamadilakhir, 1347 Hijrah (cetakan kedua). Cetakan ulangan oleh percetakan yang sama tahun 1355 Hijrah (cetakan ketiga). Dicetak semula dengan kebenaran anak pengarangnya Tuan Guru Haji Ahmad bin Tuan Husein, Qadi Besar Pulau Pinang dan Seberang Perai kepada The United Press, Pulau Pinang, selesai cetak 11 Jamadilawal1393 Hijrah.

12. Hidayatun Nikah, diselesaikan 1347 Hijrah. Kandungannya membicarakan perkara-perkara mengenai nikah kahwin.

13. Qathrul Ghaitsiyah fi `Ilmish Shufiyah `ala Syari'atil Muhammadiyah, diselesaikan 25 Jamadilawal 1348 Hijrah. Kandungannya membicarakan tasawuf. Cetakan yang kedua, Mathba'ah Persama, 93 Achen Street, Pulau Pinang. Kitab ini baru diperoleh di Kampung Pulau Pisang, Kedah, pada 26 Jamadilawal 1425 Hijrah/14 Julai 2004 Masihi.

14. Majmu'ul La-ali lin Nisa' wal Athfaliyi, juzuk yang pertama, disele- saikan pada hari Jumaat, 5 Jamadilakhir 1350 Hijrah. Kandungan mukadimahnya menyatakan bahawa judul ini terdiri daripada sepuluh juzuk. Juzuk yang pertama, membicarakan hukum taharah dalam bentuk soal-jawab. Cetakan yang ketiga The United Press, Pulau Pinang, Jamadilakhir 1360 Hijrah. Kitab ini baru diperoleh di Kampung Pulau Pisang, Kedah, pada 26 Jamadilawal 1425 Hijrah/14 Julai 2004 Masihi.

15. Majmu'ul La-ali lin Nisa' wal Athfaliyi, juzuk ke-2, diselesaikan petang Isnin, 20 Rejab 1350 Hijrah. Kandungannya membicarakan tentang sembahyang dalam bentuk soal-jawab. Tidak terdapat nama percetakan. Dicetak pada 22 Jamadilakhir 1352 Hijrah (cetakan kedua), dinyatakan bahawa terdapat tambahan daripada cetakan yang pertama. Cetakan yang ketiga The United Press, Pulau Pinang, 3 Jamadilakhir 1360 Hijrah.

16. Tabshirah li Ulil Albab, diselesaikan tahun 1351 Hijrah. Kandungannya membicarakan tentang akidah/tauhid.

17. Hidayatul Ghilman, diselesaikan pada tahun 1351 Hijrah. Kandungannya membicarakan tentang akidah/tauhid yang ditulis dalam bahasa Arab.

18. Bunga Geti, diselesaikan pada tahun 1354 Hijrah. Kandungannya membicarakan tentang sembahyang qada atau mengganti sembahyang yang ketinggalan.

19. Nailul Maram fi ma Yujabu Husnul Khitam, diselesaikan pada hari Ahad, 6 Syaaban 1354 Hijrah. Kandungannya membicarakan tentang beberapa amalan zikir dan wirid untuk mendapatkan husnul khatimah. Dicetak oleh The United Press, dikeluarkan oleh Haji Ahmad bin Tuan Husein dengan catatan, ``Dicap risalah ini untuk mendapat khairat bagi Al-Madrasah Al-Khairiyah Al-Islamiyah, Pokok Sena, Kepala Batas, Seberang Perai.''

20. Tanbihul Ikhwan fi Tadbiril Ma'isyah wat Taslikil Buldan, diselesaikan pada tahun 1354 Hijrah. Kandungannya membicarakan tentang penghidupan dan pendatbiran pe- merintahan.

Penutup

Gambaran ketekunan mengajar dan menulis ulama besar yang berasal dari Banjar dan Kedah yang sangat dikasihi oleh umat Islam di mana saja beliau menginjakkan kakinya. Selain itu beliau telah mewakafkan tanah miliknya di beberapa tempat beliau membina pondok pengajian, masjid, perkuburan Muslim dan lain-lain. Di antaranya yang dapat disaksikan sekarang ialah Sekolah Agama di Padang Lumat, Kedah, Sekolah Agama di Pokok Sena, Seberang Perai dan lain-lain. Tulisan ini masih ada kekurangan kerana keturu-nannya belum dapat disentuh, insya-Allah akan ditulis dalam sebuah buku yang lebih lengkap.

1

View rating log

Reply

Props Report

Rank: 3Rank: 3

Post on 31-10-2007 10:38 AM |All posts

Sykeh Muhammad Arsyad al-Banjari

boleh ikut nambahin khan :





SYEIKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI

NAMA lengkap Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari bin Saiyid Abu Bakar bin Saiyid Abdullah al-'Aidrus bin Saiyid Abu Bakar as-Sakran bin Saiyid Abdur Rahman as-Saqaf bin Saiyid Muhammad Maula ad-Dawilah al-'Aidrus, dan seterusnya sampai kepada Saidina Ali bin Abi Thalib dan Saidatina Fatimah bin Nabi Muhammad s.a.w. Riwayat kedatangan datuk nenek Syeikh Muhammad Arsyad ke dunia Melayu terjadi pertikaian pendapat. Ada riwayat mengatakan bahawa yang pertama datang ialah Saiyid Abdullah bin Saiyid Abu Bakar as-Sakran.

Beliau telah datang ke Filipina, dan berhasil mendirikan Kerajaan Mindano. Menurut H.M Syafie bahawa ayah Abdullah bernama Saiyid Abu Bakar (bererti datuk kepada Syeikh Muhammad Arsyad) adalah Sultan Mindano.

Abdullah pula pernah sebagai pemimpin peperangan melawan Portugis, kemudian ikut melawan Belanda lalu melarikan diri bersama isterinya ke Lok Gabang (Martapura).

Dalam riwayat yang kurang jelas, apakah Saiyid Abu Bakar as-Sakran atau pun Saiyid Abu Bakar bin Saiyid `Abdullah al-'Aidrus, dikatakan berasal dari Palembang pindah ke Johor, selanjutnya ke Brunei Darussalam, Sabah dan Kepulauan Sulu.

Yang terjadi pertikaian pendapat pula nama ayah Abdullah, selain dikatakan Abdullah bin Abdur Rahman dan Abdullah bin Saiyid Abu Bakar, ada lagi riwayat yang menyebut bahawa Abdullah itu adalah anak Kerta Suta. Kerta Suta anak Muslihuddin. Muslihuddin anak Muhammad Aminuddin.

Pendidikan

Muhammad Arsyad al-Banjari lahir pada malam Khamis, pukul 3.00 (waktu sahur), 15 Safar 1122 H/17 Mac 1710 M, wafat pada 6 Syawal 1227 H/3 Oktober 1812 M. Pendidikannya ketika kecil tidak begitu jelas, tetapi pendidikannya dilanjutkan ke Mekah dan Madinah. Sangat popular bahawa beliau belajar di Mekah sekitar 30 tahun dan di Madinah sekitar lima tahun. Sahabatnya yang paling penting yang banyak disebut oleh hampir semua penulis ialah Syeikh `Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Abdur Rahman al-Mashri al-Batawi dan Syeikh Abdul Wahhab Bugis, yang terakhir ini menjadi menantu beliau. Gurunya pula yang banyak disebut ialah Syeikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi, Syeikh `Athaullah dan Syeikh Muhammad bin Abdul Karim as-Sammani al-Madani. Selama belajar di Mekah Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari tinggal di sebuah rumah yang dibeli oleh Sultan Banjar. Rumah tersebut terletak di kampung Samiyah yang disebut juga dengan Barhat Banjar. Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dan kawan-kawannya selain belajar kepada ulama-ulama bangsa Arab, juga belajar kepada ulama-ulama yang berasal dari dunia Melayu. Di antara guru mereka yang berasal dari dunia Melayu ialah: Syeikh Abdur Rahman bin Abdul Mubin Pauh Bok al-Fathani, Syeikh Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin Aceh dan Syeikh Muhammad `Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani, dan barangkali ramai lagi.

Hampir semua ilmu keislaman yang telah dipelajari di Mekah dan Madinah mempunyai sanad atau silsilah yang musalsal mulai daripada beliau hingga ke atasnya. Hal ini cukup jelas seperti yang ditulis oleh Syeikh Yasin Padang dalam beberapa buah karya beliau. Lama masa belajar di Mekah dan Madinah, dalam jumlah pelajaran dan jenis kitab yang banyak dipelajari, ditambah lagi belajar kepada ulama yang benar-benar ahli di bidangnya masing-masing, di tempat sumber agama Islam itu sendiri, serta diperoleh daripada ulama-ulama yang warak, maka tidaklah diragui bahawa Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari akhirnya menjadi seorang ulama besar tanah Jawi atau dunia Melayu. Kewarakannya diakui oleh ulama-ulama yang datang kemudian daripada beliau kerana banyak bukti-buktinya. Selain bukti berupa karya-karyanya, juga dapat diambil kira tentang jasa-jasanya mencelikkan mata terutama rakyat Banjar atau seluruh dunia Melayu melalui karangannya yang paling terkenal Sabil al-Muhtadin. Selain itu ternyata keturunan beliau sangat ramai yang menjadi ulama. Ini sebagai bukti bahawa Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari telah berhasil membasmi kejahilan selain untuk dirinya peribadi, untuk keturunannya, keluarga besar Banjar, bahkan juga pengaruhnya dirasakan di seluruh dunia Melayu. Hal ini dikeranakan memang hampir tidak ada ulama dunia Melayu yang tidak kenal dengan karyanya Sabil al-Muhtadin yang tersebut itu.

Sahabat-sahabat

Walaupun nama-nama sahabatnya yang banyak disebut oleh beberapa orang pengarang, namun untuk melengkapi maklumat ini, di bawah ini saya salin kembali senarai nama sahabatnya yang telah diketahui. Mereka ialah: 1. Syeikh `Abdus Shamad al-Falimbani. 2. Syeikh `Abdur Rahman al-Mashri al-Batawi, iaitu datuk kepada Saiyid `Utsman Mufti Betawi yang terkenal. 3. Syeikh `Abdul Wahhab Sadenreng Daeng Bunga Wardiyah berasal dari Bugis, yang kemudian menjadi menantu kepada Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al Banjari. 4. Syeikh Ahmad Razzah orang Mesir. 5. Syeikh Muhammad Nafis bin Idris al-Banjari, pengarang kitab ad-Durr an-Nafis. 6. Syeikh Mahmud bin Kinan al-Falimbani. 7. Syeikh Muhammad `Asyiquddin bin Shafiyuddin al-Falimbani. 8. Syeikh Muhammad Shalih bin `Umar as-Samarani (Semarang) yang digelar dengan Imam Ghazali Shaghir (Imam Ghazali Kecil). 9. Syeikh `Utsman bin Hasan ad-Dimyati. 10. Syeikh `Abdur Rahman bin `Abdullah bin Ahmad at-Tarmasi 11. Syeikh Haji Zainuddin bin `Abdur Rahim bin `Abdul Lathif bin Muhammad Hasyim bin `Abdul Mannan bin Ahmad bin `Abdur Rauf al-Fathani. 12. Kiyai Musa Surabaya dan ramai lagi.

[ Last edited by  donk3 at 31-10-2007 10:39 AM ]
Reply

Props Report

Rank: 3Rank: 3

Post on 31-10-2007 10:38 AM |All posts
Penulisan

Tradisi kebanyakan ulama, ketika mereka belajar dan mengajar di Mekah, sekali gus menulis kitab di Mekah juga. Lain halnya dengan Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari, walaupun dipercayai bahawa beliau juga pernah mengajar di Mekah, namun karya yang dihasilkannya ditulis di Banjar sendiri. Lagi pula nampaknya beliau lebih mencurahkan khidmat derma baktinya di tempat kelahirannya sendiri yang seolah-olah tanggungjawab rakyat Banjar terbeban di bahunya. Ketika mulai pulang ke Banjar, sememangnya beliau sangat sibuk mengajar dan menyusun segala macam bidang yang bersangkut-paut dengan dakwah, pendidikan dan pentadbiran Islam. Walaupun begitu beliau masih sempat menghasilkan beberapa buah karangan. Karangannya yang sempat dicatat adalah seperti berikut di bawah ini:
1. Tuhfah ar-Raghibin fi Bayani Haqiqah Iman al-Mu'minin wa ma Yufsiduhu Riddah ar-Murtaddin, diselesaikan tahun 1188 H/1774 M
2. Luqtah al-'Ajlan fi al-Haidhi wa al-Istihadhah wa an-Nifas an-Nis-yan, diselesaikan tahun 1192 H/1778 M.
3. Sabil al-Muhtadin li at-Tafaqquhi fi Amri ad-Din, diseselesaikan pada hari Ahad, 27 Rabiulakhir 1195 H/1780 M
4. Risalah Qaul al-Mukhtashar, diselesaikan pada hari Khamis 22 Rabiulawal 1196 H/1781 M.
5. Kitab Bab an-Nikah.
6. Bidayah al-Mubtadi wa `Umdah al-Auladi
7. Kanzu al-Ma'rifah
8. Ushul ad-Din
9. Kitab al-Faraid
10. Hasyiyah Fat-h al-Wahhab
11. Mushhaf al-Quran al-Karim
12. Fat-h ar-Rahman
13. Arkanu Ta'lim as-Shibyan
14. Bulugh al-Maram
15. Fi Bayani Qadha' wa al-Qadar wa al-Waba'
16. Tuhfah al-Ahbab
17. Khuthbah Muthlaqah Pakai Makna. Kitab ini dikumpulkan semula oleh keturunannya, Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari. Dicetak oleh Mathba'ah Al-Ahmadiah, Singapura, tanpa dinyatakan tarikh cetak.

Ada pun karyanya yang pertama, iaitu Tuhfah ar-Raghibin, kitab ini sudah jelas atau pasti karya Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari bukan karya Syeikh `Abdus Shamad al-Falimbani seperti yang disebut oleh Dr. M. Chatib Quzwain dalam bukunya, Mengenal Allah Suatu Studi Mengenai Ajaran Tasawuf Syeikh Abdus Samad AI-Falimbani, yang berasal daripada pendapat P. Voorhoeve. Pendapat yang keliru itu telah saya bantah dalam buku Syeikh Muhammad Arsyad (l990). Dasar saya adalah bukti-bukti sebagai yang berikut:
1. Tulisan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, ``Maka disebut oleh yang empunya karangan Tuhfatur Raghibin fi Bayani Haqiqati Imanil Mu'minin bagi `Alim al-Fadhil al-'Allamah Syeikh Muhammad Arsyad.''
2. Tulisan Syeikh `Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari dalam Syajaratul Arsyadiyah, ``Maka mengarang Maulana (maksudnya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, pen itu beberapa kitab dengan bahasa Melayu dengan isyarat sultan yang tersebut, seperti Tuhfatur Raghibin ...'' Pada halaman lain, ``Maka Sultan Tahmidullah Tsani ini, ialah yang disebut oleh orang Penembahan Batu. Dan ialah yang minta karangkan Sabilul Muhtadin lil Mutafaqqihi fi Amrid Din dan Tuhfatur Raghibin fi Bayani Haqiqati Imani Mu'minin wa Riddatil Murtaddin dan lainnya kepada jaddi (Maksudnya: datukku, pen al-'Alim al-'Allamah al-'Arif Billah asy-Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari.''
3. Pada cetakan Istanbul, yang kemudian dicetak kembali oleh Mathba'ah Al-Ahmadiah, Singapura tahun 1347 H, iaitu cetakan kedua dinyatakan, ``Tuhfatur Raghibin ... ta'lif al-'Alim al-'Allamah asy-Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.'' Di bawahnya tertulis, ``Telah ditashhihkan risalah oleh seorang daripada zuriat muallifnya, iaitu `Abdur Rahman Shiddiq bin Muhammad `Afif mengikut bagi khat muallifnya sendiri ...''. Di bawahnya lagi tertulis, ``Ini kitab sudah cap dari negeri Istanbul fi Mathba'ah al-Haji Muharram Afandi''.
4. Terakhir sekali Mahmud bin Syeikh `Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari mencetak kitab Tuhfah ar-Raghibin itu disebutnya cetakan yang ketiga, nama Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari tetap dikekalkan sebagai pengarangnya.

Daripada bukti-bukti di atas, terutama yang bersumber daripada Syeikh Daud bin `Abdullah al-Fathani dan Syeikh `Abdur Rahman Shiddiq adalah cukup kuat untuk dipegang kerana kedua-duanya ada hubungan dekat dengan Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari itu. Syeikh Daud bin `Abdullah al-Fathani adalah sahabat Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari sedangkan Syeikh `Abdur Rahman Shiddiq pula adalah keturunan Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari. Mengenai karya-karya Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari yang tersebut dalam senarai, insya-Allah akan dibicarakan pada kesempatan yang lain.
Reply

Props Report

Conqueror

EVO7 Limited Edition

Rank: 16Rank: 16Rank: 16Rank: 16

Post on 13-10-2008 11:03 AM |All posts
edit....................
Reply

Props Report

Conqueror

EVO7 Limited Edition

Rank: 16Rank: 16Rank: 16Rank: 16

Post on 28-8-2012 01:40 PM |All posts
sudah lama tak update artikel dekat sini.............
Reply

Props Report

12
Return Post new threads
You need to login first Login | Register Facebook Login

Important Notice: The views and opinions expressed on the forum or the related pages are of the owner alone, and are not endorsed by CARI, nor is CARI responsible for them. Due to the nature of the Internet forum is in real time, CARI does not, and can not censor any submission, but asks that each user use discretion and respect for other users, and does not contribute any word that is unlawful, harmful, threatening, abusive, harassing, tortious, defamatory, vulgar, obscene, libelous, invasive of another's privacy, hateful, or racially, ethnically or otherwise objectionable. CARI reserve the right to withhold and/or remove any link that might possibly hold an individual, entity or group ridicule, potential embarrassment or potential defamation. CARI also reserves the right to accept, edit and/or remove any link that is deemed inappropriate in any way.
Hosted by

Archiver|Mobile|CARI Malay Forums

GMT+8, 22-11-2014 02:55 AM , Processed in 0.240866 second(s), 21 queries , Gzip On.

Powered by Discuz!

© 2001-2012 Comsenz Inc.

Top